1. Mengapa proses Decission making dalam pembelajaran berdasarkan hasil penilaian

Dalam konteks pengajaran, penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan yang diraih oleh siswa. Menurut Rahmat dan Suhardi (1998 : 24) bahwa : “Ada beberapa gagasan pokok yang terkandung dalam batasan penilaian tersebut. Pertama, penilaian adalah suatu proses. Ini mengandung arti bahwa penilaian terdiri atas serangkaian kegiatan yang direncanakan dari mulai menetapkan tujuan penilaian, mengembangkan instrumen, mengumpulkan data, sampai kepada pengambilan keputusan. Kedua, penilaian dilakukan secara sistematis, yang berarti bahwa kegiatan penilaian dilakukan berdasarkan aturan-aturan dan prinsip-prinsip tertentu yang semestinya diperhatikan dalam program penilaian. Ketiga, kata penentuan tingkat mengindikasikan bahwa dalam penilaian selalu ada kaitan pengambilan keputusan, dan ini merupakan pokok. Keempat, penilaian merupakan kegiatan penentuan tingkat pencapaian tujuan, ini berarti bahwa kegiatan penilaian akan selalu dikaitkan dengan tujuan pengukuran yang telah dirumuskan terhadap prestasi belajar siswa maka guru harus menguasai kompetensi-kompetensi yang menyangkut penilaian tersebut”. Berdasarkan pendapat diatas maka jelaslah bahwa penilaian melalui suatu proses yang sistematis untuk pengambilan keputusan penting mengenai pencapaian tujuan Pengajaran. Oleh karena itu, guru diharapkan menguasai kompetensi-kompetensi dalam penilaian prestasi belajar peserta didik

2. Hubungan kriteria penilaian PAK dan PAN dengan kurikuum KBK

Ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) Pendekatan Acuan Kriteria (PAK) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP). Sejalan dengan uraian di atas, Glaser (1963) yang dikutip oleh W. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial, yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan status relatif, dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut. Sejalan dengan pendapat Glaser, Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual position with respect to some group. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik, menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement). 1. Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT) Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik. Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adalah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Criterion-referenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation, referenced to a defined body of learner behaviors. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada sekor-sekor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan nilai A atau B, seorang siswa harus mendapatkan sekor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (sekor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya. Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah sekor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan, maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya. Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut: Rentang Skor Nilai • 80% s.d. 100% A • 70% s.d. 79% B • 60% s.d. 69% C • 45% s.d. 59% D • < 44% E / Tidak lulus 2. Penilaian Acuan Norma (PAN), Norm Reference Test (NRT) Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan. Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya Penggunaan satu alat penilaian sebagai dasar dalam melakukan evaluasi terhadap belajar dan perkembangan siswa dianggap sebagian ahli sebagai abuse and misuse of assessment—kesalahan mendasar dalam melakukan penilaian dan pemanfaatan informasi penilaian. Pembelajaran Berbasis Kompetensi merupakan wujud pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagai currículum in action. Salah satu rangkaian pembelajaran berbasis kompetensi pelaksanaan adalah evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi. Mengacu pada asumsi bahwa pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa unsur, yaitu masukan, proses dan keluaran/hasil; maka terdapat tiga jenis evaluasi sesuai dengan sasaran evaluasi pembelajaran, yaitu evaluasi masukan, proses dan keluaran/hasil pembelajaran. Evaluasi masukan pembelajaran menekankan pada evaluasi karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran, karakteristik dan kesiapan dosen, kurikulum dan materi pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata kuliah, serta keadaan lingkungan dimana pembelajaran berlangsung. Evaluasi proses pembelajaran menekankan pada evalusi pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh pembelajar meliputi keefektifan strategi pembelajaran yang dilaksanakan, keefektifan media pembelajaran, cara mengajaryang dilaksanakan, dan minat, sikap serta cara belajar mahasiswa. Evaluasi hasil pembelajaran atau evaluasi hasil belajar antara lain mengguakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar sebagai prestasi belajar, dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi oleh setiap mahasiswa. Terkait dengan ketiga jenis evaluasi pembelajaran tersebut, dalam praktek pembelajaran secara umum pelaksanaan evaluasi pembelajaran menekankan pada evaluasi proses pembelajaran atau evaluasi manajerial, dan evaluasi hasil belajar atau evaluasi substansial. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran kedua jenis evaluasi tersebut merupakan komponen sistem pembelajaran yang sangat penting. Evaluasi kedua jenis komponen yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Selanjutnya masukan tersebut pada gilirannya dipergunakan sebagai bahan dan dasar memperbaiki kualitas proses pembelajaran menuju ke perbaikan kualitas hasil pembelajaran. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Menurut Sardiman (2001:28), hasil belajar meliputi: a. Keilmuan, pengetahuan, konsep, dan fakta (kognitif). b. Personal, kepribadian, atau sikap (afektif). c. Kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotorik).

3. Assesmen merupakan bagian yang penting dan tidak terpisahkan dalam system pendidikan Proses assessment adalah alat yang efektif untuk mengkomunikasikan tujuan dari system pendidikan. Asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual. Visi assessment yang digambarkan oleh National Science Education Syandards, assessment adalah mekanisme feedback primer dalam system pendidikan. Sebagai contoh, data assessment yang diperoleh siswa merupakan feedback tentang sebaik apakah siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan guru atau orang tua mereka, feedback bagi guru adalah sebaik apakah siswa mereka belajar, feedback bagi lembaga pendidikan yaitu sebaik apakah efektivitas guru dan program yang dijalankan, dan feedback bagi pembuat kebijaksanaan yaitu sebaik apakah kebijaksanaan mereka berjalan. Feedback tersebut menuntun perubahan dalam system pendidikan dengan menstimulasi perubahan dalam kebijaksanaan, menuntun pengembangan guru yang professional, dan mendorong siswa untuk memperbaiki pemahaman mereka terhadap pembelajaran Seiring dengan perubahan cara berpikir pendidik tentang cara mendidik yang baik, maka pengukuran dalam bidang pendidikanpun berubah menjadi semakin baik. Pemahaman tentang pentingnya assessment untuk pembentukan pendidikan yang kontemporer dirangsang oleh penelitian, perkembangan dan implementasi dari metode baru dalam pengumpulan data. Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut “Nasional Assesment”. Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktor-faktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan, pembaharuan, dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendidikan nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA Laster, Lan. (1985). The school of the future : some teachers view on education in the year 2000. UK. Arikunto, Suharsimi (1993). Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta: Rineka Cipta Mulyasa, E., (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

2 Tanggapan

  1. don jawaban pak djoko sisan sich mumet ki ngarang indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: