El Nino dan La Nina

El Nino dan La Nina

Pengertian

El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Ekuator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif. Menurut bahasa Peru El Nino berarti bayi laki-laki karena munculnya di sekitar hari Natal (akhir Desember). El Nino dapat datang setiap dua tahun sampai tujuh tahu sekali. Suhu di Samudra Pasifik menjadi hangat, tetapi tidak di Australia Utara dan Indonesia, Jika hal ini terjadi angin pasat akan melemah dan arahnya berbalik. Udara tropis yang lembap tidak berpusat di Benua Australia. Udara lembap beralih berpusat di Samudra Pasifik hal ini menyebabkan turunya hujan di Samudra Pasifik dan hijrah di belahan Australia dan Indonesia menjadi berkurang. Akibatnya timbul kekeringan dan biasanya di sertai dengan kebakaran rumput dan hutan. Berdasar intensitasnya El Nino dapat dikategorikan sebagai :

a. El Nino Lemah (Weak El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator positif antara +0.5 ºC s/d +1,0 ºC yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

b. El Nino sedang (Moderate El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di pasifik Ekuator positif +1,1 ºC s/d 1,5 ºC yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

c. El Nino kuat (Strong El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif > 1,5 ºC yang berlangsung selama 3 bulan berturut-turut atau lebih.

Fenomena El Nino akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan berkurang tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di pasifik Ekuator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif yang menyebabkan curah hujan di Indonesia secara umum akan bertambah tergantung kepada lokasi dan Intensitas La Nina tersebut. Peristiwa La Nina terjadi ketika angin pasat berhembus dengan keras dan terus menerus melintasi daerah yang dilewati. Angin tersebut mendorong lebih banyak air hangat dibandingkan biasanya . akibatnya semakin banyaklah awan yang terkonsentrasi, sehingga menyebabkan turunya hujan di daerah tersebut lebih banyak. Di daerah tersebut terjadi hujan deras yang mengakibatkan banjir dan air pasang.

Tabel1. perbandingan kondisi normal, peristiwa El Nino dan Peristiwa La Nina

Kondisi Normal

Peristiwa El Nino

Peristiwa La Nina

Dalam keadaan normal angin berhembus dari timur melintasi samudra pasifik. Ini menyebabkan air hangat dari pasifik tengah terdorong ke barat. Air hangat ini berkumpul disepanjang garis pantai Australia sebelah Utara, lalu mengalir ke perairan Indonesia, terbetnuklah awan diatas air hangat, Awan ini membawa tujuan apabila bergerak diatas Australia dan Indonesia.

Suhu di Samudra Pasifik menjadi hangat, tetapi tidak di Australia Utara dan Indonesia, Jika hal ini terjadi angin pasat akan melemah dan arahnya berbalik. Udara tropis yang lembap tidak berpsuat di Benua Australia. Udara lembap beralih berpusat di Samudra Pasifik hal ini menyebabkan turunya hujan di Samudra Pasifik dan hijrah di belahan Australia dan Indonesia menjadi berkurang. Akibatnya timbul kekeringan

terjadi ketika angin pasat berhembus dengan keras dan terus menerus melintasi daerah yang

dilewati. Angin tersebut mendorong lebih banyak air hangat dibandingkan biasanya . akibatnya semakin banyaklah awan

yang terkonsentrasi, sehingga menyebabkan turunya hujan di daerah tersebut lebih banyak. Di daerah tersebut terjadi

hujan deras yang mengakibatkan banjir dan air pasang.

Pada kondisi normal, angin pasat dan monsoon Asia lebih dominan sesuai dengan dinamika Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ). Pada saat anomali iklim, pengaruh sistem sirkulasi udara secara zonal Asia Pasifik yang dikendalikan oleh El Nino Southern Oscillation (ENSO) sebagai perbedaan tekanan udara antara Darwin (Australia) dan Tahiti (Afrika Barat) lebih dominan disbanding sirkulasi udara zonal, khususnya angin zonal yang bertiup dari dan ke wilayah Lautan Pasifik ekuator. Keadaan ini menjadi penyebab terjadinya penyimpangan iklim El Nino dan La Nina. El Nino dan La nina dapat juga disebabkan oleh adanya perubahan suhu global yang cenderung naik, tak lain penyebabnya adalah :

a. Peningkatan konsentrasi gas buang dan radiasi bali dari bumi.

b. Penyimpangan kondisi-kondisi cuaca rata-rata harian, bulanan, hingga tahunan.

Secara meteorologist kejadian El Nino dan La Nina di tunjukkan oleh indicator Southern osccilation index (SOI). Dan perubahan suhu di laut pasifik . Nilai SOI bervariasi menurut bulan, Pada peristiwa El Nino nilai SOI turun dibawah kisaran normal dan sebaliknya pada kegiatan La Nina. Apabila nilai SOI positif maka akan menimbulkan La Nina sedangkan jika bernilai negative akan menimbulkan El Nino dan La Nina

Fenomena El Nino dan La Nina

El Nino dan La Nina merupakan anomali iklim global yang semakin sering diperdebatkan akhir-akhir ini mengingat pengairuhnya yang signifikan terhadap produksi pangan dan komoditas pertanian lainnya. Gejala munculnya El Nino biasanya dicirikan dengan meningkatnya suhu muka laut di kawasan Pasifik secara berkala dengan selang waktu tertentu dan meningkatnya perbedaan tekanan udara antara Darwin dan Tahiti (Fox, 2000; Nicholls and Beard, 2000). Secara meteorologis kejadian El Nino tersebut dan juga La Nina ditunjukkan ole Southern Osccilation Index (SOI) dan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik (World Meteorology Organization, 1999). Nilai SOI tersebut sangat bervariasi menurut bulan atau dalam periode waktu yang lebih singkat lagi akibat perubahan perbedaan tekanan udara antara Darwin dan Tahiti. Pada peristiwa El Nino, nilai SOI turun dibawah kisaran normal dan sebaliknya pada kejadian La Nina.

Nilai SOI di kawasan Asia Tenggara dan Australia berkorelasi kuat dengan curah hujan, karena itu perubahan nilai SOI merupakan indikator yang baik bagi perubahan curah hujan di kawasan Asia tenggara dan Australia. Jika terjadi El Nino atau terjadi nilai SOI negatif, maka curah hujan di kawasan tersebut dapat turun dibawah curah hujan normal, sebaliknya jika terjadi La Nina yang ditunjukkan oleh nilai SOI positif, dapat menimbulkan peningkatan curah hujan (Yoshino etal.,2000; World Meteorology Organization,1999). Akan tetapi nilai SOI yang negatif tidak selalu diikuti dengan penurunan curah hujan secara drastis jika nilai negatif SOI tersebut tidak begitu ekstrim. Pada umumnya jika nilai negatif SOI pada suatu peristiwa El Nino mencapai -10 atau kurang maka dapat dipastikan akan terjadi penurunan curah hujan di bawah normal, sebaliknya jika pada peristiwa La Nina nilai positif SOI mencapai 10 atau lebih maka akan terjadi peningkatan curah hujan di atas normal (Fox, 2000).

Gambar `1. Rata-rata nilai SOI bulanan pada peristiwa Elnino dan La Nina tahun 1985-2000 (sumber: Australian beareu of meteorologi)

Gambar diatas memperlihatkan rata-rata nilai SOI bulanan pada peristiwa El Nino (nilai SOI negatif) dan La Nina (nilai SOI positif) yang terjadi sedikitnya selama 4 bulan secara berturut-turut pada periode 1875-2000. Tampak bahwa secara total telah terjadi 37 kasus El Nino dan 38 kasus La Nina. Waktu kejadian anomali iklim tersebut tidak beraturan dalam pengertian tidak ada periode siklus kejadian yang konsisten. Begitu pula lama kejadian atau durasi anomali iklim yang terjadi sangat bervariasi, yang berkisar antara 4 bulan hingga 21 bulan pada kasus El Nino, dan antara 4 bulan hingga 17 bulan pada kasus La Nina. Sedangkan nilai rata-rata SOI bulanan yang mencerminkan tingkat anomali yang terjadi, berkisar antara –5,60 hingga –22,13 pada kasus El Nino dan antara 5,44 hingga 18,21 pada kasus La Nina.

Dari total kasus tersebut di atas, terdapat 19 kasus El Nino yang memiliki rata-rata nilai SOI bulanan lebih kecil dari -10 dan 16 kasus La Nina yang memiliki rata-rata nilai SOI bulanan lebih besar dari +10. Peristiwa anomali iklim tersebut sangat berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap produksi pangan mengingat besarnya tingkat anomali iklim yang terjadi dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Pada peristiwa El Nino yang termasuk dalam kategori tersebut, ketersediaan air irigasi akan turun secara drastis dan musim kemarau akan semakin panjang akibat turunnya curah hujan dibawah normal dan peningkatan suhu udara akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang (4 bulan atau lebih). Sebaliknya, pada kejadian La Nina curah hujan akan naik diatas curah hujan normal dan dapat menimbulkan banjir di daerah-daerah yang sensitif.

Berdasarkan tingkat anomalinya, El Nino yang terjadi tahun 1982/83 merupakan yang paling parah dimana rata-rata nilai SOI bulanan mencapai –22,1. Namun dalam hal lamanya kejadian, El Nino 1940/41 merupakan yang paling panjang dan berlangsung selama 21 bulan berturut-turut antara April 1940 hingga Desember 1941. Sedangkan untuk kasus La Nina, tahun kejadian 1916/1918 merupakan yang paling lama (17 bulan berturut-turut). Pada tahun tersebut juga terjadi tingkat anomali La Nina yang paling parah dimana rata-rata nilai SOI bulanan mencapai 18,2. Seperti yang tertera dalam table berikut :

Tabel 2. Kejadian El Nino dan La Nina yang Berlangsung Selama 4 Bulan atau Lebih dan Memiliki Nilai SOI Sangat Ekstrim, 1875-2000

El Nino

La Nina

Tahun

kejadian

Periode

kejadian

Durasi

(bulan)

Nilai

SOI

Tahun

kejadian

Periode

Kejadian

Durasi

(bulan)

Nilai

SOI

1877/78

07/77- 03/77

9

-13,6

1878/79

08/78-10/79

15

14,9

1888/89

03/88-04/89

14

-12,8

1886/87

08/86-03/87

8

12,0

1896/97

04/96-05/97

14

-18,1

1889/90

10/89-03/90

6

15,9

1905

02/05-12/05

11

-20,5

1903/04

12/03-05/04

6

14,4

1911

06/11-09/11

4

-11,4

1906

08/06-12/06

5

13,3

1912

02/12-05/12

4

-13,9

1910

06/10-12/10

7

14,6

1914/15

05/14-04/15

12

-12,6

1916/18

11/16-3/18

17

18,2

1940/41

04/40-12/41

21

-14,6

1938

05/38-09/38

5

13,7

1946

05/46-09/46

5

-10,0

1950/51

01/50-01/51

13

15,4

1953

04/53-09/53

6

-10,6

1955/56

06/55-07/56

14

13,5

1965

06/65-10/65

5

-14,0

1970/71

10/70-05/71

8

14,4

1972

05/72-09/72

5

-13,1

1973/74

07/73-04/74

10

16,0

1977/78

04/77-03/78

12

-12,2

1975/76

03/75-02/76

12

15,5

1982/83

05/82-04/83

12

-22,1

1988/89

08/88-06/89

11

13,9

1986/87

12/86-09/87

10

-15,7

1998

07/98-03/99

9

11,9

1991/92

09/91-05/92

9

-14,7

1999/00

11/99-4/00

6

10,7

1993

08/93-01/94

9

-12,6

1994

03/94-11/94

6

-14,3

1997/98

03/97-04/98

14

-18,0

Sumber : Source : Australian Bureau of Meteorology.

Daftar Pustaka

Intergovernmental Panel on Climate Change. 2007. Climate Change 2007 : Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Summary for Policymakers and Technical Summary of the Working Group II Report. WMO-UNDP.

Irawan,Bambang. 2002. Fenomena Anomali Iklim El Nino Dan La Nina. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian:Bogor

Irawan.B. 2002. Stabilization of Upland Agriculture Under El Nino-Induced Climatic Risk:Impact Assessment and Mitigation Measures in Indonesia. CGPRT Centre Working Paper No.62. United Nations

http://www.lapan.go.id

http://www.bmkg.go.id

http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=96&fname=giat4b.htm

http://www.bmkgjateng.go.id

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: